| Misteri Oven Mbak Maya |
|
|
|
| Blog - Blogs | |||||
| Written by Aa Gung | |||||
| Tuesday, 05 June 2007 20:30 | |||||
|
Abad 21
Abad 20Ketika yogya mengalami gempa, orang-orang terpelajar berkata: " Indonesia terletak di patahan lempeng-lempeng bumi...dll" dan mereka terus melakukan penelitian tentang bagaimana mendeteksi gempa sedini mungkin. Tapi begini kata orang jawa: "Nyi roro kidul cemburu karena orang- orang terlalu memperhatikan merapi". Dan itu terjadi di tahun 2006. Abad ke-21. Bayangkan kisah ini terjadi di akhir abad 19. Awal abad 20. Maya sedang memanggang kue di dalam oven, dia pasang panasnya sampe 60 derajat Celcius. Tiba-tiba dia menerima telpon, dan ternyata itu dari Deby, adiknya, dan Deby berkata, "nenek sakit. Kayanya dia akan meninggal". Maya yang sayang sama neneknya langsung bergegas pergi menuju Yogya, tempat neneknya tinggal. Di sana dia bersama anggota keluarga yang lain merawat neneknya. Neneknya tidak jadi meninggal malah berangsur sembuh. Tapi itu membuat Maya harus menetap di sana selama seminggu. Ada satu hal yang dilupakan Maya. Dia lupa mematikan oven ketika berangkat. Sepulangnya ke rumah, Maya langsung menyadari, "Ya ampun!!! Oven nyala selama seminggu!" Tetangganya, Pak Seklien , MSc, yang seorang ahli fisika mendengar itu dan berkata, "Apa? Oven kamu menyala selama seminggu?!" "Iya", kaya Maya, "Saya lupa. Saya harus segera mematikannya! " "Tunggu!", kata Pak Seklien MSc, "Tunggu, itu berbahaya. Kalau kamu buka ovennya langsung, panas di dalam oven akan langsung menyembur! Bayangkan, panas terkumpul selama seminggu penuh. ckckckckc. Kamu tidak bisa membayangkan seberapa besar energi yang terkumpul di dalamnya!!!" Maya berpikir sebentar,"Mmmm itu artinya muka saya bisa tersembur panas dari dalam oven ketika saya membuka oven ?" "Ya!" kata Pak Seklien MSc, "Panas yang terkumpul di dalam oven telah terakumulasi selama seminggu. Itu pasti panas sekali! Energi tingkat tinggi!" "Waduh", kata Maya, "Lalu apa yang harus saya lakukan ?" Pak Seklien MSc berpikir sebentar dan berkata, "Saya hubungi dulu Pak Jenar phD, dia lebih jago dari saya. Saya akan bertanya padanya apa yang harus dilakukan". Akhirnya Pak Seklien MSc memanggil Pak Jenar phD. Pak Jenar phD pun langsung datang. "Yah, memang seperti itu", kaya pak Jenar phD, "Saya juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akan terjadi semburan energi yang sangat besar dari dalam oven, akumulasi gelombang panas. Ini mengandung banyak sekali jenis frekuensi yang mungkin. Panjang gelombang berbanding terbalik dengan frekuensi. Kita harus panggil pemadam kebakaran dan penjinak bom!!!" Akhirnya karena hal tersebut, hebohlah orang sekampung. Para pemadam kebakaran dan penjinak bom dengan pakaian dan perlengkapan lengkap, mulai menyiapkan diri untuk membuka oven. Para ahli penjinak bom, berhasil mencabut colokan listrik oven dan membawa oven tersebut keluar rumah dan meletakkannya di lubang yang sangat dalam sekali yang telah mereka gali. Mereka segera memasang mesin untuk membuka oven dari jarak jauh untuk menghindari semburan energi panas. Semua orang menahan nafas ketika akhirnya oven tersebutpun dibuka... Dan ternyata tidak terjadi apa-apa. Tidak terjadi semburan energi yang membakar dan menghancurkan. Hanya saja memang tercium bau kue gosong. Maya mengeluh, "Yaaah, maklumlah, baru pertama kali belajar bikin kue..." ***** Akhirnya cerita tersebut tersebar ke seluruh penjuru dunia. Semua ahli bingung kenapa hal tersebut bisa terjadi. Singkat cerita, karena hal itu di kampung tersebut datanglah dua orang ahli untuk melakukan penyelidikan. Yang pertama adalah ahli supranatural bernama kiyai gendeng jawa medog meledug dan yang satu lagi adalah seorang ilmuwan bernama Max Planck . Semua orang bertanya pada Kiyai Gendeng Jawa Medog Meledug dan Kiyai Gendeng Jawa Medog Meledug mulai menjelaskan, " Jin !", serunya pasti dengan logat Jawanya yang kental, "Ini adalah Jin Nyai Belorong ! Ada sebuah jin , yang hidup di tempat-tempat panas. Memang Jin Nyai Belorong suka makan hawa panas, itu sebabnya oven mba Maya tidak menyembur panas. Ada Jin Nyi Blorong yang terus menerus memakan hawa panas di oven Mba Maya sehingga oven Mba Maya tetap stabil suhunya!" Lalu orang-orang menatap Max Planck , tapi Max Planck kebingungan, dengan logat bule, Max berkata, "Wah... saya juga tidak tahu kenapa... Menurut teori memang seharusnya oven Miss Maya menyemburkan energi tingkat tinggi, maksud saya panas yang membara... tapi... mmmm... walau begitu, saya harus tetap mencari penjelasan ilmiah yang masuk akal! Jin , what the hell is that?!" Orang-orang kampung yang mayoritas orang Indonesia berseru, "huuuu, Planck looser! Ngga baca quran apa, Jin itu ada!!! Hidup Kiyai Gendeng Jawa Medog Meledug !" dan akhirnya semua orang Indonesia puas dengan jawaban si dukun. Bahkan Pak Seklien MSc dan Pak Jenar phD ikut-ikutan meledek Planck , "Sok rasional! Sok pinter ! Ngga tau apa wong jowo tuh pinter-pinter! Tau banyak tentang jin , dedemit, tuyul, babi ngepet, dll???!" Tapi Planck yang selalu dididik oleh keluarga bulenya dan sesama bule lainnya untuk selalu mencari jawaban ilmiah dan rasional, dan menjauhi mistik-mistik tak jelas, tetap berusaha mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Planck segera menerbitkan jurnal ilmiahnya tentang radiasi benda hitam, yang intinya bertanya, "Kenapa oven menyala dan tertutup selama seminggu ketika dibuka tidak meledug???" dan jurnal ilmiah tersebut dibaca oleh semua ilmuwan fisika bule. Pak Seklien yang MSc dan Pak Jenar yang phD yang ahli fisika, tidak ikut-ikutan, mereka tahu jawabannya, " JIN NYI BLORONG !" Selama puluhan tahun, semua ilmuwan di seluruh dunia,---- kecuali ilmuwan Indonesia karena mereka telah tahu jawabannya (Jin Nyi Blorong )---, mati-matian melakukan penelitian untuk menemukan jawaban ilmiah atas misteri tersebut. Tapi ketika seseorang mengajukan jawaban ilmiah, pertanyaan lainnya malah bermunculan dari jawaban tersebut, dan pertanyaan-pertanya an tersebut butuh dijawab! Masalah-masalah baru malah bermunculan: fotoelektrik Einstein, foton, kuanta energi, Ketidakpastian Heisenbergh , Gelombang De Broglie , dll. Selama puluhan tahun, terus terjadi seperti itu dan pada akhirnya lebih banyak pertanyaan yang timbul dibandingkan jawaban yang bisa diberikan. Para ilmuwan malah menemukan cabang fisika baru dari hal tersebut yang lumayan mengubah pola pikir mereka selama ini, mereka menyebut fisika ini: Fisika Kuantum. Pada bulan Oktober tahun 1947, di usianya yang ke-89, Max Planck meninggal dunia tanpa pernah menemukan jawaban atas misteri oven miss Maya tersebut. Saat itu Miss Maya telah berkeluarga dan beranak pianak dan telah pandai memasak kue dan tidak pernah lagi lupa untuk mematikan oven. Dia tidak ingin membuat masalah lagi. Maya merasa bersimpati dengan Max Planck . Walau dia tidak terlalu mengerti masalahnya, tapi dia tidak menyukai dukun-dukun. Walau dia memiliki keluarga Jawa yang fanatik dukun, dia juga punya keluarga Padang yang selalu menasihatinya, "Itu musyrik lillahitaala! " Dia lebih senang mengikuti keluarga Padangnya yang Islamnya berbau agak-agak Wahabian yang anti mistik dan supranatural. Dia berdoa semoga arwah Max Planck tenang dan diterima di sisi-Nya. Di tahun 2006, Maya telah menjadi seorang nenek dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Diapun meninggal pada bulan Juli tahun 2006. Anak-anak dan cucu-cucu Maya merasa sedih dan mereka ingat pada satu cerita yang selalu diceritakan oleh Maya, tentang seorang pria bernama Max Planck yang terus berusaha mencari jawaban ilmiah atas misteri ovennya. Dan bagaimana orang Indonesia yang fanatik dukun mencemoohnya, dan terus memuja berhala Jin dan mistik, serta selalu puas dengan jawaban-jawaban seperti itu. Mereka ingat bagaimana Maya selalu menasihati mereka, "Carilah ilmu pengetahuan sebanyak- banyaknya. Karena itulah satu-satunya cara kalian bisa mengetahui bagaimana caranya hidup yang benar dan baik. Sekolah yang benar jangan suka bolos dan jangan pergi ke dukun". Sampai saat ini, setelah seratus tahun lebih,tak ada satupun ilmuwan di dunia ini yang menemukan jawaban pasti atasmisteri oven Maya. Yang tersisa hanyalah pertanyaan-pertanya an yangterus muncul dan sulit dijawab. Rasanya misteri ini tak akan pernahterpecahkan oleh siapapun. Sampai detik ini, semua ilmuwan bule didunia, masih kebingungan tentang itu. Hanya ada satu orang yangpernah berhasil menjawabnya, Kiyai Gendeng Jawa Medog Meledug dan diatetap menjadi pujaan dan inspirasi bangsa Indonesia . Tapi suatuhari seorang Indonesia, cucu Pak Jenar phD, bernama Prof. Garin membukanotebook dan menyalakan infra red di Handphone Siemens K750i-nya, iamembuka koneksi ke internet melalui handphonenya, membuka email danmulai menulis email. Email itu dia tujukan kepada cucu Max Planck ,begini dia menulis: "Yang terhormat, cucu Max Planck Denganpenuh rasa hormat dan takjub, saya ingin memohon maaf kepada anda, ataskesalahan leluhur saya. Kami orang Indonesia, memang sangat memujatahyul. Dulu kakek saya sering bercerita tentang si bodoh Max Planckdan sampai sekarang kebanyakan dari kami masih mentertawakan kebodohanorang bule yang tidak percaya jawaban dukun kami. Seakan-akan merekaberkata, 'Lihatlah, dari dulu dukun sakti mandraguna kami telahmenjawab. Tapi kalian tidak percaya, kini kalian masih bingung dalamkesesatan!' dan mereka tetap memuja dukun-dukun. Ketika sayamenggunakan komputer dan handphone, saya sangat penasaran, bagaimanaorang bisa membuat hal seperti ini. Sayapun berusaha mencari tahu, danternyata saya menemukan, komputer, handphone, kamera digital, laser,dan teknologi-teknologi digital yang banyak digunakan oleh umat manusiasaat ini, ditemukan karena sebuah misteri yang berusaha dijawab olehkakek anda, Max Planck (semoga Allah memberkatinya) . Jawaban atasmisteri oven mba Maya (semoga Allah memberkatinya) yang tidakmeledug walau telah ditinggal seminggu! Kalian menyebutnya misteriradiasi benda hitam, kami menyebutnya, misteri oven Mba Maya. Memangsampai saat ini kalian belum menemukan jawaban atas misteri tersebut,tapi lihatlah apa yang telah kalian hasilkan dari proses pencarian kalian atas jawaban kalian. Handphone, laser, bioengineering, komputer, kamera digital... Tapibangsa kami, mereka semua puas dengan jawaban dukun dan tidak pernahmau mencari jawaban non-mistis. Mereka lebih suka leha-leha dan ongkangkaki dan tidak pernah mau penasaran serta mencari tahu. Semua dijawabdengan Jin , Nyi roro kidul, Nyi Blorong , dll. Dan lihatlah bangsakami, bodoh, terbelakang, tertinggal.. . tak menghasilkan apapun. Kini saya menyadari, sebuah proses sama pentingnya dengan tujuan. Mungkin kita tak menemukan jawaban atas pertanyaan kita, tapi jika kita berusaha mencari tahu, maka proses tersebut akan menghasilkan banyak hal lainnya. Itulah yang kalian, bangsa-bangsa bule, lakukan, dan inilah bangsa kami para pemuja dukun dan kiyai jawa medog meledug, lakukan. Semuanya tentang Jin dan Nyai. Bukan tentang manusia. Ketika kami masih memuja berhala Nyi Blorong dan Jin , merendahkan cara yang dilakukan Max Planck , kami mengirim sms melalui Handphone, teknologi yang muncul karena Kakek anda tersebut. Betapa tidak bersukurnya kami. Betapa memalukannya kami. Betapa bodoh dan tidak mau belajarnya kami. Tapi saya masih berharap. Suatu hari nanti bangsa kami akan meninggalkan jin jin dan nyai nyai. Mulai mencari jawaban seperti kakek anda, Max Planck , walau tahu bahwa mungkin mereka tidak akan pernah menemukannya. Tapi itulah inti dari kehidupan. Pencarian. Karenanya saya, cucu Pak Jenar phD, memohon maaf sebesar-besarnya dan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kepada anda, dan bangsa anda, karena telah memungkinkan kami hidup layak dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang anda harus mati-matian mencari dan menemukannya sementara kami tidur dan ongkang-ongkang kaki karena semua jawaban adalah tentang jin dan nyai. Maaf dan terima kasih, Garin bin Mahmud Bin Jenar. Atas nama bangsa Indonesia Dan harapan tentangnya " Kembali ke Abad 21 Ketika yogya mengalami gempa, orang-orang terpelajar berkata: " Indonesia terletak di patahan lempeng-lempeng bumi...dll" dan mereka terus melakukan penelitian tentang bagaimana mendeteksi gempa sedini mungkin. Tapi begini kata orang jawa: "Nyi roro kidul cemburu karena orang-orang terlalu memperhatikan merapi". Mereka memberi sesajen dan puas dengan itu. Tanpa pernah melakukan apapun untuk menemukan cara mendeteksi gempa sedini mungkin. Dan itu terjadi di tahun 2006. Abad ke-21. Seratus tahun setelah Max Planck . Dan oven Mba Maya. Hidup bangsa ini.
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||
| Last Updated on Wednesday, 06 June 2007 07:02 |
Home
Profile 


